Guru merupakan
profesi sebagai pendidik. guru dituntut memiliki kompetensi di bidangnya. Kompetensi
guru adalah hasil dari penggabungan dari kemampuan-kemampuan yang banyak
jenisnya, berupa seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus
dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam menjalankan tugas
keprofesionalannya (Suprihatiningrum, 2013: 98). Guru wajib memiliki kompetensi
dalam melaksanakan tugasnya tersebut. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru, macam-macam kompetensi yang wajib dimiliki oleh
tenaga guru, antara lain kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Salah
satu upaya untuk meningkatkan kompetensi Guru adalah melalui pelatihan. Pelatihan
adalah suatu proses yang dilakukan melalui kegiatan tatap muka untuk menguasai
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat digunakan untuk meningkatkan
kapasitas dirinya dalam melaksanakan tugasnya. Sebuah program pelatihan yang
dilaksanakan secara efektif dan efisien akan memberikan kontribusi yang positif
terhadap perkembangan dan kemajuan sekolah. Kontribusi yang dapat diberikan
terhadap sekolah mencakup beberapa aspek : membuat sekolah dapat tetap hidup (survive) dan berkembang, meningkatkan
mutu sekolah, meningkatkan kemampuan profesional guru dalam melaksanakan
tugasnya
Ada
beberapa metode pelatihan yang dapat digunakan diantaranya adalah sebagai
berikut:
a.
On The Job
Training. Pelatihan
yang dilakukan sambil bekerja dengan menggunakan situasi kerja sebagai tempat
pembelajaran. Pelatihan ini berkaitan dengna pekerjaan baru, dilaksanakan di
tempat kerja dengan supervisi langsung dari karyawan lain yang telah
berpengalaman dalam pekerjaan tersebut. Pelatihan ini meliputi beberapa metode
yaitu:
1). Job
Instruction Training (Latihan Instruktur Pekerjaan), yaitu melatih karyawan
secara langsung tentang cara-cara pelaksanaan kerja dengan berpedoman pada
langkah-langkah yang telah disusun sebelumnya.
2). Job
Rotation (Rotasi Pekerjaan), dilakukan dalam rangka rotasi jabatan
karyawan. Mereka diberi kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan pada
bagian-bagian organisasi yang berbeda dan juga praktik berbagai macam
keterampilan dengan cara berpindah dari satu bagian/pekerjaan ke bagian /
pekerjaan lainnya.
3). Apprenticeships
(Magang), merupakan proses belajar seorang karyawan dari seseorang atau
beberapa orang karyawan lainnya yang lebih berpengalaman. Metode ini digunakan
untuk mengembangkan keahlian perorangan agar mereka dapat mempelajari berbagai
aspek pekerjaannya secara menyeluruh.
4). Coaching,
adalah suatu cara pelaksanaan pelatihan dimana atasan mengerjakan keahlian
dan keterampilan kerja kepada bawahannya. Dalam metode ini pengawas diperlukan
sebagai petunjuk untuk memberitahukan kepada karyawan yang bersangkutan
mengenai tugas atau pekerjaan rutin yang akan dilaksanakan dan bagaimana cara
mengerjakannya.
b. Off The
Job Training. Pelatihan yang dilakukan sambil bekerja dengan menggunakan
situasi kerja tiruan sebagai tempat pembelajaran. Pelatihan ini digunakan
apabila banyak karyawan yang harus dilatih dengan cepat atau apabila on the job training tidak dapat dilakukan
karena berbagai alasan.
c. Vestibule
Training. Pelatihan yang dilakukan dalam suatu ruangan pelatihan khusus
yang terpisah dari tempat kerja. Dalam ruangan tersebut disediakan jenis
peralatan yang sama seperti yang akan digunakan pada pekerjaan sebenarnya.
Latihan ini berguna sebagai pendahuluan dari latihan kerja.
d. Understudy
Training. Suatu pelatihan di mana pesertanya bekerja langsung untuk menjadi
karyawan yang cakap dengan mempelajari suatu jenis pekerjaan tertentu dan
memberi pelayanan sebagai seorang tenaga pembantu.
e. Role
Playing. Peserta pelatihan belajar dengan cara memainkan salah satu
peristiwa atau berbagai peran mengenai sesuatu yang benar-benar akan dihadapi
dan dikerjakannya di tempat pekerjaannya. Peserta lain yang berbeda perannya,
diminta untuk menanggapinya. Teknik ini dapat mengubah sikap peserta, seperti
misalnya menjadi lebih toleransi terhadap perbedaan individual dan juga dapat
mengembangkan keterampilan-keterampilan antar pribadi.
f. Conference
Training. Suatu pelatihan yang menitikberatkan pada pembicaraan-pembicaraan
masalah kelompok, bertukar ide dan memberikan praktik dalam mempengaruhi sikap
anggota-anggota kelompoknya.
g. Case
Study. Merupakan metode pelatihan dimana para peserta pelatihan dihadapkan
pada beberapa kasus tertulis dan diharuskan memecahkan masalah-masalah
tersebut.
h. Simulation.
Merupakan suatu situasi atau kejadian yang ditampilkan semirip mungkin dengan
situasi yang sebenarnya, tetapi hanya merupakan tiruan saja dan para pelatih
harus memberikan respon seperti dalam kejadian yang sebenarnya. Jadi simulasi
merupakan suatu teknik untuk mencontoh semirip mungkin terhadap konsep
sebenarnya dari pekerjaan yang akan dijumpai.
i. Self
Study. Merupakan teknik yang menggunakan modul-modul tertulis dan kaset-kaset
atau video tape rekaman dan para
peserta hanya mempelajarinya sendiri. Teknik ini tepat digunakan apabila jumlah
karyawan yang mengikuti pelatihan dalam jumlah yang besar, para karyawan
tersebar di berbagai lokasi yang berbeda-beda dan sulit mengumpulkan para
karyawan sekaligus untuk bersama-sama mengikuti program pelatihan tertentu.
j. Programmed
Learning. Dalam metode ini diberikan beberapa pertanyaan-pertanyaan dan
para peserta pelatihan harus memberikan jawaban yang benar. Metode ini dapat
juga melalui komputer yang sudah mempunyai program tersendiri agar para peserta
dapat mempelajari dan memerinci selangkah demi selangkah dengan umpan balik
langsung pada penyelesaian setiap langkah. Masing-masing peserta pelatihan
dapat menetapkan kecepatan belajarnya.
k. Laboratory
Training. Teknik ini merupakan suatu bentuk latihan kelompok terutama
digunakan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan antar pribadi. Latihan
ini bersifat sensitivitas dimana peserta menjadi lebih sensitif terhadap
perasaan orang lain dan lingkungan. Pelatihan ini berguan untuk mengembangkan
berbagai perilaku tanggung jawab pekerjaan di waktu yang akan datang.
l. Lecture.
Merupakan metode pelatihan dengan
memberikan kuliah atau ceramah dalam rangka penyampaian informasi-informasi
yang dibutuhkan peserta. Metode ini mengeluarkan biaya yang tidak tinggi, namun
kelemahannya adalah peserta kurang berpartisipasi sehingga kurang memberikan
respon.
m. Video Presentation. Presentasi yang
dilakukan melalui media televisi, film, slides dan sejenisnya serupa dengan
bentuk lecture.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar