Senin, 25 September 2017

Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan



Guru merupakan profesi sebagai pendidik. guru dituntut memiliki kompetensi di bidangnya. Kompetensi guru adalah hasil dari penggabungan dari kemampuan-kemampuan yang banyak jenisnya, berupa seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam menjalankan tugas keprofesionalannya (Suprihatiningrum, 2013: 98). Guru wajib memiliki kompetensi dalam melaksanakan tugasnya tersebut. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, macam-macam kompetensi yang wajib dimiliki oleh tenaga guru, antara lain kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi Guru adalah melalui pelatihan. Pelatihan adalah suatu proses yang dilakukan melalui kegiatan tatap muka untuk menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas dirinya dalam melaksanakan tugasnya. Sebuah program pelatihan yang dilaksanakan secara efektif dan efisien akan memberikan kontribusi yang positif terhadap perkembangan dan kemajuan sekolah. Kontribusi yang dapat diberikan terhadap sekolah mencakup beberapa aspek : membuat sekolah dapat tetap hidup (survive) dan berkembang, meningkatkan mutu sekolah, meningkatkan kemampuan profesional guru dalam melaksanakan tugasnya
Ada beberapa metode pelatihan yang dapat digunakan diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       On The Job Training. Pelatihan yang dilakukan sambil bekerja dengan menggunakan situasi kerja sebagai tempat pembelajaran. Pelatihan ini berkaitan dengna pekerjaan baru, dilaksanakan di tempat kerja dengan supervisi langsung dari karyawan lain yang telah berpengalaman dalam pekerjaan tersebut. Pelatihan ini meliputi beberapa metode yaitu:
1).   Job Instruction Training (Latihan Instruktur Pekerjaan), yaitu melatih karyawan secara langsung tentang cara-cara pelaksanaan kerja dengan berpedoman pada langkah-langkah yang telah disusun sebelumnya.
2).   Job Rotation (Rotasi Pekerjaan), dilakukan dalam rangka rotasi jabatan karyawan. Mereka diberi kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan pada bagian-bagian organisasi yang berbeda dan juga praktik berbagai macam keterampilan dengan cara berpindah dari satu bagian/pekerjaan ke bagian / pekerjaan lainnya.
3).   Apprenticeships (Magang), merupakan proses belajar seorang karyawan dari seseorang atau beberapa orang karyawan lainnya yang lebih berpengalaman. Metode ini digunakan untuk mengembangkan keahlian perorangan agar mereka dapat mempelajari berbagai aspek pekerjaannya secara menyeluruh.
4).   Coaching, adalah suatu cara pelaksanaan pelatihan dimana atasan mengerjakan keahlian dan keterampilan kerja kepada bawahannya. Dalam metode ini pengawas diperlukan sebagai petunjuk untuk memberitahukan kepada karyawan yang bersangkutan mengenai tugas atau pekerjaan rutin yang akan dilaksanakan dan bagaimana cara mengerjakannya.
b.  Off The Job Training. Pelatihan yang dilakukan sambil bekerja dengan menggunakan situasi kerja tiruan sebagai tempat pembelajaran. Pelatihan ini digunakan apabila banyak karyawan yang harus dilatih dengan cepat atau apabila on the job training tidak dapat dilakukan karena berbagai alasan.
c.  Vestibule Training. Pelatihan yang dilakukan dalam suatu ruangan pelatihan khusus yang terpisah dari tempat kerja. Dalam ruangan tersebut disediakan jenis peralatan yang sama seperti yang akan digunakan pada pekerjaan sebenarnya. Latihan ini berguna sebagai pendahuluan dari latihan kerja.
d.  Understudy Training. Suatu pelatihan di mana pesertanya bekerja langsung untuk menjadi karyawan yang cakap dengan mempelajari suatu jenis pekerjaan tertentu dan memberi pelayanan sebagai seorang tenaga pembantu.
e.  Role Playing. Peserta pelatihan belajar dengan cara memainkan salah satu peristiwa atau berbagai peran mengenai sesuatu yang benar-benar akan dihadapi dan dikerjakannya di tempat pekerjaannya. Peserta lain yang berbeda perannya, diminta untuk menanggapinya. Teknik ini dapat mengubah sikap peserta, seperti misalnya menjadi lebih toleransi terhadap perbedaan individual dan juga dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan antar pribadi.
f.  Conference Training. Suatu pelatihan yang menitikberatkan pada pembicaraan-pembicaraan masalah kelompok, bertukar ide dan memberikan praktik dalam mempengaruhi sikap anggota-anggota kelompoknya.
g.  Case Study. Merupakan metode pelatihan dimana para peserta pelatihan dihadapkan pada beberapa kasus tertulis dan diharuskan memecahkan masalah-masalah tersebut.
h.  Simulation. Merupakan suatu situasi atau kejadian yang ditampilkan semirip mungkin dengan situasi yang sebenarnya, tetapi hanya merupakan tiruan saja dan para pelatih harus memberikan respon seperti dalam kejadian yang sebenarnya. Jadi simulasi merupakan suatu teknik untuk mencontoh semirip mungkin terhadap konsep sebenarnya dari pekerjaan yang akan dijumpai.
i.   Self Study. Merupakan teknik yang menggunakan modul-modul tertulis dan kaset-kaset atau video tape rekaman dan para peserta hanya mempelajarinya sendiri. Teknik ini tepat digunakan apabila jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan dalam jumlah yang besar, para karyawan tersebar di berbagai lokasi yang berbeda-beda dan sulit mengumpulkan para karyawan sekaligus untuk bersama-sama mengikuti program pelatihan tertentu.
j.   Programmed Learning. Dalam metode ini diberikan beberapa pertanyaan-pertanyaan dan para peserta pelatihan harus memberikan jawaban yang benar. Metode ini dapat juga melalui komputer yang sudah mempunyai program tersendiri agar para peserta dapat mempelajari dan memerinci selangkah demi selangkah dengan umpan balik langsung pada penyelesaian setiap langkah. Masing-masing peserta pelatihan dapat menetapkan kecepatan belajarnya.
k.  Laboratory Training. Teknik ini merupakan suatu bentuk latihan kelompok terutama digunakan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan antar pribadi. Latihan ini bersifat sensitivitas dimana peserta menjadi lebih sensitif terhadap perasaan orang lain dan lingkungan. Pelatihan ini berguan untuk mengembangkan berbagai perilaku tanggung jawab pekerjaan di waktu yang akan datang.
l.   Lecture.  Merupakan metode pelatihan dengan memberikan kuliah atau ceramah dalam rangka penyampaian informasi-informasi yang dibutuhkan peserta. Metode ini mengeluarkan biaya yang tidak tinggi, namun kelemahannya adalah peserta kurang berpartisipasi sehingga kurang memberikan respon.
m. Video Presentation. Presentasi yang dilakukan melalui media televisi, film, slides dan sejenisnya serupa dengan bentuk lecture.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel