Rabu, 27 September 2017

TEACHING FACTORY DI SMK




Teaching Factory adalah suatu metode pembelajaran yang mengadaptasi suasana seperti di perusahaan atau industri yang diterapkan di sekolah dengan maksud agar kompetensi siswa selaras dengan kebutuhan perusahaan dan industri. Hal ini sejalan dengan pengertian Teaching Factory menurut Nanyang Polytechnic (NYP), Singapura sebagaimana dikutip N.M. Yahya (2006:2), “Concept as an approach that combines the learning and working environment from which realistic and relevant learning experiences arise”. Pembelajaran Teaching Factory sendiri merupakan pengembangan dari pembelajaran berbasis produksi di mana suatu proses pembelajaran keahlian atau keterampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau jasa yang sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen. Dengan kata lain barang yang diproduksi dapat berupa hasil produksi yang dapat dijual atau yang dapat digunakan oleh masyarakat, sekolah ataupun konsumen.

Pendekatan program TEFA (Teaching Factory) merupakan perpaduan pendekatan pembelajaran CBT (Competency Based Training) dan PBT (Prodction Based Training). Teaching Factory menerapkan pembelajaran yang berorientasi bisnis dan produksi. Proses penerapan program Teaching Factory adalah dengan memadukan konsep bisnis dan pendidikan kejuruan sesuai dengan kompetensi keahlian yang relevan. Teaching Factory se benarnya menggabungkan dua kegiatan pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran berbasis sekolah (School Based Learning) dan berbasis kerja (Work Based Learning). Siswa berstatus ganda sebagai siswa SMK sekaligus pemagang.

Proses Penerapan Teaching Factory
Menurut Frans Thamura (http://www.slideshare.net/2010/11/teachingfactory/), tahapan yang harus dilalui SMK dalam penerapan Teaching Factory adalah:

1.    Pembentukan manajemen Teaching Factory
Membentuk struktur organisasi manajemen produksi skala kecil di kelas sesuai bentuk organisasi yang ada pada perusahaan. Guru bertindak sebagai konsultan, asesor dan fasilitator.

2.    Proses produksi
Order dari konsumen atau barang yang akan diproduksi masuk ke bagian manajemen untuk dikonsultasikan kepada guru sebagai konsultan dan fasilitator. order selanjutnya masuk kebagian produksi untuk dilakukan proses pengerjaan dan setiap bagian melakukan pengawasan (quality control) terhadap pekerjaan yang dilakukan agar tidak terjadi kesalahan.

3.    Proses pemasaran dan hasil produksi
Produk pesanan disesuaikan antara mutu yang diinginkan konsumen dengan kondisi barang saat itu, produk bukan pesanan dipasarkan secara umum melalui bagian pemasaran.

4.    Proses Evaluasi
Guru/konsultan memberikan penilaian tersendiri terhadap setiap bagian kemudian mengevaluasinya bersama untuk dijadikan tolok ukur keberhasilan job/progress siswa. Dari penilaian tersebut dapat diketahui kemampuan siswa dalam melaksanakan tugasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel