Teaching Factory adalah suatu metode pembelajaran yang mengadaptasi suasana seperti di perusahaan atau industri yang diterapkan di sekolah dengan maksud agar kompetensi siswa selaras dengan kebutuhan perusahaan dan industri. Hal ini sejalan dengan pengertian Teaching Factory menurut Nanyang Polytechnic (NYP), Singapura sebagaimana dikutip N.M. Yahya (2006:2), “Concept as an approach that combines the learning and working environment from which realistic and relevant learning experiences arise”. Pembelajaran Teaching Factory sendiri merupakan pengembangan dari pembelajaran berbasis produksi di mana suatu proses pembelajaran keahlian atau keterampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau jasa yang sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen. Dengan kata lain barang yang diproduksi dapat berupa hasil produksi yang dapat dijual atau yang dapat digunakan oleh masyarakat, sekolah ataupun konsumen.
Pendekatan program TEFA (Teaching Factory) merupakan
perpaduan pendekatan pembelajaran CBT (Competency
Based Training) dan
PBT (Prodction Based Training). Teaching Factory menerapkan pembelajaran
yang berorientasi bisnis dan produksi. Proses penerapan program Teaching Factory
adalah dengan memadukan konsep bisnis dan pendidikan kejuruan sesuai dengan
kompetensi keahlian yang relevan. Teaching Factory se benarnya
menggabungkan dua kegiatan pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran berbasis
sekolah (School Based Learning) dan berbasis kerja (Work Based
Learning). Siswa berstatus ganda sebagai siswa SMK sekaligus pemagang.
Proses Penerapan
Teaching Factory
Menurut Frans
Thamura (http://www.slideshare.net/2010/11/teachingfactory/),
tahapan yang harus dilalui SMK dalam penerapan Teaching Factory adalah:
1. Pembentukan
manajemen Teaching Factory
Membentuk
struktur organisasi manajemen produksi skala kecil di kelas sesuai bentuk
organisasi yang ada pada perusahaan. Guru bertindak sebagai konsultan, asesor
dan fasilitator.
2.
Proses
produksi
Order dari
konsumen atau barang yang akan diproduksi masuk ke bagian manajemen untuk
dikonsultasikan kepada guru sebagai konsultan dan fasilitator. order
selanjutnya masuk kebagian produksi untuk dilakukan proses pengerjaan dan
setiap bagian melakukan pengawasan (quality control) terhadap pekerjaan
yang dilakukan agar tidak terjadi kesalahan.
3.
Proses
pemasaran dan hasil produksi
Produk pesanan
disesuaikan antara mutu yang diinginkan konsumen dengan kondisi barang saat
itu, produk bukan pesanan dipasarkan secara umum melalui bagian pemasaran.
4.
Proses
Evaluasi
Guru/konsultan
memberikan penilaian tersendiri terhadap setiap bagian kemudian mengevaluasinya
bersama untuk dijadikan tolok ukur keberhasilan job/progress siswa. Dari
penilaian tersebut dapat diketahui kemampuan siswa dalam melaksanakan tugasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar